Tuesday, July 9, 2013
Hujan gerimis pagi ini (Selasa, 9 Juli 2013)
mengingatkan kami pada sebuah peristiwa besar yang menguras tenaga. Sore itu
saat kami sedang bersantai tiba-tiba kami tergerak untuk segera berlari
membantu seorang ibu dan kakek yang dengan penuh semangat memberesi padi yang
terhampar di halaman. Mentari terlihat merangkak menuju peraduanya, sedangkan
kami segera mengambil peralataan berlomba dengan matahari yang tampaknya tidak
ingin kami kejar. Kami... Empat Pemuda Tampan Tangguh dan Penuh Tanggung Jawab
segera membentuk formasi dan dengan sigap memindahkan secara bergantian setiap
bulir gabah ke dalam bakul yang cukup besar untuk menampungnya menuju ke teras.
Begitulah kegiatan yang kami lakukan secara
berulang dan berlanjut hingga hamparan gabah yang ada di depan halaman habis
tak bersisa bahkan untuk dipatok seekor ayampun. Langkah selanjutnya adalah
melipat alas yang digunakan untuk melapisi gabah. Melalui instruksi kakek yang
penuh dengan jiwa muda ditambah dengan seorang gadis berperawakan perjaka yang
tidak dapat kami sebutkan namanya untuk menjaga kerahasiaan dan privasi dari
yang bersangkutan, proses pelipatan alas dan pemberesan tempat menjadi lebih
cepat dan rapi. Keringat mengalir deras, tubuh terasa pegal, dan kulitpun
terasa gatal, namun kebahagiaan dan kebanggan yang tak terkira dapat mengobati
segala rasa yang sudah terkontaminasi oleh kelelahan.
Semoga kegiatan kami ini dapat menjadi inspirasi
bagi generasi muda jaman sekarang yang mengagung-agungkan kecanggihan
teknologi, kepraktisan berkomunikasi, dan kemudahan dalam bertransaksi.
PS:
a. Bagus buat latihan otot lengan. Tidak
cocok untuk ibu-ibu hamil atau menyusui.
b. Gabah sahabat sub unit 3
c. Wajah tampan tidak menghalangi otot untuk
berkarya
d. Sebakul
gabah, tiada berarti bobotnya dibanding bobot tubuh kita.
Monday, July 8, 2013
Desa Jatikontal merupakan produsen gula kelapa di pasar lokal. Maka dari itu kami tim Nol tiga telah merencanakan sebuah mega proyek untuk memajukan kesejahteraan masyarakatnya dengan cara meningkatkan nilai jual gula kelapa. Awal dari rencana besar ini adalah dengan melakukan perjalanan mencari referensi usaha gula semut yang kebetulan diketahui berada di negeri Kokap Kulon Progo. Senin, 8 Juli 2013, kami berangkat dengan penuh semangat meskipun terik matahari menyengat dan angin kencang menerpa tubuh kami yang lemah, kecil dan tidak berdaya untuk melawan segala halangan dan rintangan yang ada di depan kami. Kami cukup terkejut saat mengetahui bahwa jalan yang dilalui melebihi dugaan. Jalannya berliku, berbatu, menyempit dan menanjak. Kamipun sempat putus asa dan kebingungan, sampai akhirnya kami menemukan sebuah kios yang memajang gula kelapa berjumlah cukup banyak yang ada di depan rumah itu. Kamipun segera bertanya mengenai lokasi pembuatan gula semut. Setelah itu, kami berunding sejenak untuk memahami penjelasan mengenai tempat pembuatan gula semut. Akhirnya kami memutar arah dan kembali melewati jalan yang tidak mudah untuk dilalui. Setelah kami bertanya beberapa kali akhirnya sebuah titik terang itu muncul yang berawal dari keterangan seorang anak kecil yang pada awalnya kurang dapat dipercaya karena usianya yang masih terlalu dini untuk menjawab sebuah yang informasi yang sangat penting bagi mahasiswa universitas ternama seperti kami. Kami melanjutkan perjalanan sesuai petunjuk yang diberikan oleh anak kecil itu, dan tanpa diduga kami menemukan secercah harapan melalui penemuan papan nama bertuliskan sentra gula semut dan yang lebih menyenangkan, kami juga mendapati jejak-jejak rekan kami sesama mahasiswa yang melakukan KKN yang dibuktikan dengan sebuah plang fotocopian di dekat jembatan yang bersebelahan dengan papan nama sentra gula semut.
Kamipun memutuskan untuk mengikuti penunjuk arah
kkn. Setelah melewati 4 tanda, kami menemukan sebuah rumah dengan tanda pondokan
kkn. Sambutan hangat diberikan oleh tuan rumah. Kamipun langsung diajak menuju
markas produksi gula semut. Sesampainya di markas, kami disambut dengan
kekagetan yang bercampur dengan kelelahan dari para pekerja. Kami berkenalan
dengan tim produksi gula semut dan dijelaskan secara langsung mengenai proses
pembuatan gula semut. Pada dasarnya pembuatan antara gula kelapa atau yang
disebut gula batok dengan gula semut adalah sama, hanya saja perbedaannya
terletak pada kandungan air dalam gula. Ternyata proses panjang di markas
tersebut belum usai. Kami melanjutkan langkah kami menuju KUB yang berada
sekitar 500m dari markas. Kami bergegas dengan penuh rasa ingin tahu menuju
tempat tersebut. Sesampainya disana kami disambut oleh 3 orang pemuda dan peralatan
yang mengundang decak kagum serta tumpukan gula semut setengah jadi. Sayangnya
kami tidak bisa menemukan gula semut
yang sudah jadi untuk dibawa pulang sebagai sample karena stok sudah habis
dikirim ke Prancis dan Jerman. Kami lebih kagum lagi ketika mengetahui bahwa
ternyata gula semut yang diproduksi tersebut telah mengantongi sertifikat
organik dari negeri kincir angin (tebak
sendiri....). Kami disuguhi teh hangat manis yang baru sempat kami teguk
beberapa saat sebelum beranjak meninggalkan lokasi. Kamipun pulang dengan
membawa wawasan dan harapan yang baru untuk desa Jatikontal.
PS: pilihlah satu di antara kesimpulan di bawah ini yang menurut kalian
sesuai dengan cerita di atas
- Untuk mendapatkan sesuatu yang bagus berkualitas dan mahal memang harus melalui perjuangan yang cukup panjang dan berliku, jadi jangan pernah berhenti di tengah jalan sebelum kamu mencapai tujuannya.
- Peluang itu selalu ada dimanapun kamu berada asal kamu percaya.
- Don’t judge a book by the cover karena walau kurang meyakinkan sebenarnya anak kecil itu memiliki sejuta rahasia dan informasi penting yang berharga yang mungkin luput dari perhatian orang dewasa.
Jawablah pertanyaan yang tersembunyi dalam artikel ini dan dapatkan hadiah
menarik bagi yang beruntung.
Pemenang utama akan mendapatkan grandprize berupa ringtone single perdana
dari Ujikun berjudul “Kamu Pasti Bertahan”
Pemenang kedua berkesempatan untuk dibuatkan cerita spesial oleh Sisca Suwilomo
(penulis artikel bebas tanpa referensi terpopuler abad ini).
Pemenang ketiga akan mendapatkan konsultasi obat gratis dari Dian
Kartowardoyo (apoteker ambigu belum tersertifikasi dan belum lolos uji emisi).
*pemenang berhak memilih menjadi pemenang ke berapa, tetapi hanya boleh
memilih satu saja.
Tim KKN JTG-17 terbagi menjadi tiga Subunit yang
salah satunya menempati pondokan di RT 1, Dusun Krajan, Desa Jatikontal,
Kecamatan Purwodadi, Jawa Tengah. Pada hari Minggu, 7 Juli 2013, tim KKN JTG-17
Subunit 3 bersama ibu pondokan menghadiri acara Kenduri di rumah Ketua Dusun
Krajan. Tepat pukul 12.00 WIB, tim yang menamai dirinya Nol Tiga berjalan
menyusuri jalan setapak depan pondokan menuju lokasi Kenduri. Kenduri merupakan
acara tradisi yang telah dilakukan sejak dahulu oleh warga. Tujuan diadakannya
Kenduri adalah memanjatkan doa, memohon kelancaran pelaksanaan bulan Ramadhan
hingga Lebaran.
Warga yang menghadiri acara Kenduri membawa tampah yang berisi makanan. Makanan
tersebut terdiri dari nasi, lauk, peyek, dan apem. Nasi dan lauk dibungkus
dalam daun pisang yang disusun berselang-seling memutari apem yang diletakkan
di tengah tampah. Tim Nol Tiga membawakan tampah dari pemilik pondokan. Tibanya
tim Nol Tiga di lokasi Kenduri, disambut oleh Ketua Dusun beserta warga lain
yang sudah berkumpul. Tampaknya tim Nol Tiga datang terlambat dan secara
spontan, koordinator tim Nol Tiga diminta untuk memimpin doa. Koordinator tim
Nol Tiga seketika bersiap walaupun terlihat terkejut karena baru pertama kali
menghadiri acara Kenduri di dusun ini.
Sebelum acara diakhiri,
dilakukan pertukaran makanan dalam tampah. Para warga saling bertukar dengan
memutar tampah-tampah makanan tersebut. Esensi acara Kenduri adalah bahwa tiap
orang yang hadir membawa pulang makanan yang telah diberkati sebagai oleh-oleh.
Masing-masing anggota tim Nol Tiga diberi bungkusan plastik berisi makanan
tersebut. Tidak lebih dari setengah jam, acara berakhir. Tim Nol Tiga bersama
ibu pondokan kembali ke pondokan. Tidak lupa selama acara, tim Nol Tiga
berhasil mengabadikan gambar dengan suasana acara Kenduri
On 5:40 PM by Yo No comments
Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan penduduk
dusun Krajan mengadakan kenduri. Ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan sejak
dahulu. Setiap rumah menyiapkan satu tampah yang berisi nasi, lauk, peyek, dan
apem yang dibungkus dalam daun pisang dan disusun sedemikian rupa dengan
susunan tertentu, selang-seling antara nasi dan lauk pauk serta apem di
tengahnya. Satu tampah itu dibawa ke tempat kenduri untuk didoakan. Acara
kenduri dimulai dengan pengantar dari ketua dusun yang berisi tentang tujuan
diadakannya kenduri. Kemudian dilanjutkan dengan doa. Puncak acara yaitu saling
bertukar isi tampah. Selesainya kenduri, setiap orang yang hadir akan
membungkus bawaan dalam plastik sebagai oleh-oleh menghadiri acara tersebut.
Dengan terselenggaranya
kenduri, semua warga berharap bulan Ramadhan yang segera tiba ini akan berjalan
lancar hingga Lebaran.
Sunday, July 7, 2013
On 11:03 AM by Yo 1 comment
Optimalisasi Sumber
Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Untuk Meningkatkan Pendapatan Daerah
Masyarakat Menuju Desa Wisata.
Desa Jatikontal, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa
Tengah
Subscribe to:
Posts (Atom)










